Sabtu, 13 Maret 2010

ki ageng prawito sidik

Semasa hidupnya Ki Ageng Purwoto Sidik merupakan guru dari Joko Tingkir yang kelak kemudian hari berhasil menjadi raja di Kerajaan Pajang. Lokasi berada di Dusun Sarean, Kelurahan Jatingarang, Kecamatan Weru, Sukoharjo.
Ingin mengetahui sejarah dari Ki Ageng Purwoto Sidik ? Berikut cerita sejarah yang kami kutip dari berbagai sumber.

Pengembaraan Kyai Purwoto Sidik meninggalkan banyak petilasan di berbagai daerah. Namun, karena di tiap daerah selalu berganti nama, banyak orang meragukan petilasan itu. Banyubiru lalu menjadi kata kunci kepastian jati diri tokoh mistis ini.

SEJAK peristiwa mistis di Rawapening, Kyai Purwoto Sidik kawentar dengan julukan Ki Ageng Banyubiru. Semula julukan itu hanya digunakan pengikutnya, tapi kemudian menjadi lebih umum.
Perjalanan Kyai Purwoto Sidik berlanjut ke Purwokerto. Hampir di setiap tempat beliau juga bertapa. Setelah tujuh tahun di Purwokerto lalu hijrah ke Rejosari Semin Gunungkidul. Beliau hidup di tengah hutan Kali Goyang.
Makam Ki Ageng Purwoto Sidik
Makam Ki Ageng Purwoto Sidik

Ketika tapa-brata beliau bersandar di pohon Jati. Di hutan itu, beliau berganti nama menjadi Ki Ageng Purwoto Sidik Perwitosari. Tujuh tahun kurang dua puluh satu hari, beliau didatangi seseorang dari Serang yang mengaku sebagai cucu. Kyai Purwoto Sidik yang waskita sudah mengetahui sebelumnya. Beliau tak ingin ditemui, dan segera meninggalkan alas Kali Goyang cucu itu tiba. Namun, orang itu terus mengejar. Setelah bertemu, orang Serang itu menyatakan ingin berguru. Dengan tegas Kyai Purwoto Sidik menolaknya. Ketika terjadi perdebatan antara keduanya mendadak pohon Jati tempat bertapa Kyai Purwoto Sidik tumbang.

Makam Ki Ageng Purwoto Sidik
Tumbangnya pohon Jati di alas Kali Goyang, menurut Mbah Amad, menjadi tetenger atau tanda putusnya hubungan Kyai Purwoto Sidik dengan seseorang dari Serang yang mengaku sebagai cucunya tersebut.
SESUDAH peristiwa di alas Kali Goyang, lalu meneruskan pengembaraan sampai di Jatingarang Sukoharjo. Dulu bernama alas Wonogung. Beliau tapa kungkum di sendang setempat. Dan lagi-lagi, air sendang Wonogung mendadak berubah biru. Sendang itu pun lalu dinamai Banyubiru.

Makam Ki Ageng Purwoto Sidik
Kini kawasan sendang telah berubah menjadi dusun Banyubiru. Dan nama Ki Banyubiru makin kondang.
Dusun Banyubiru berada di selatan kota Solo, disebut-sebut sebagai tempat pertama Joko Tingkir berguru. Joko Tingkir kemudian ke Gunung Majasto lalu ke Pajang. Jalur getheknya menjadi dasar penamaan dusun-dusun di wilayah itu, yakni Watu Kelir, Toh Saji, Pengkol, Kedung Apon dan Kedung Srengenge.
Selain Sendang Banyubiru, ada delapan sendang lain petilasan Kyai Purwoto Sidik, yakni sendang Margomulyo, Krapyak, Margojati, Bendo, Gupak Warak, Ndanumulyo, Siluwih dan Sepanjang.
Sendang Gupak Warak berada di Wonogiri, dan lainnya tersebar di Weru Sukoharjo. Semua
sendang itu, kini airnya menyusut. Bahkan, sendang Banyubiru tak lagi mengeluarkan air, dan dibiarkan menjadi kolam kering penampung air hujan, dan di atasnya dibangun sebuah masjid.

Di dusun Banyubiru, Kyai Purwoto Sidik menetap hingga tutup usia. Beliau dimakamkan di utara sendang Banyubiru, yang kini karena alasan administratif menjadi dusun bernama Sarehan. Ki Ageng Banyubiru dimakamkan bersama kedua puteri, Nyai Gadung Melati dan Roro Tenggok. Uniknya, kedua puteri tersebut tak dibuatkan nisan. Kedua pengikut beliau, Gus Bambang dan Gus Purut dimakamkan dalam satu nisan untuk berdua.
.................... Makam Bumi Arum Majasto
Thursday, 26 March 2009 00:00
E-mail Print PDF

Majasto
Berada di puncak bukit setinggi kurang lebih 60 meter di Pegunungan Kendeng Kidul, Desa Majasto, Tawangsari seraya memandang ke bawah, akan terlihat pemandangan asri. Hamparan sawah yang menghijau dan perumahan warga terasa menyejukkan mata.
Di puncak bukit itulah (10 km dari jantung Kota Sukoharjo) Kompleks Makam Ki Ageng Sutawijaya atau yang dikenal dengan nama Bumi Arum Majasto berada.

Semasa hidupnya, Ki Ageng Sutawijaya yang juga dikenal sebagai Joko Bodho adalah tokoh yang sangat sakti. Ini tak diragukan, karena selain putra nomor 107 dari raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V sekaligus guru Jaka Tingkir yang di kemudian hari menjadi Raja Pajang dan bergelar Sultan Hadiwijaya. Pada malam satu Sura, maupun malam Selasa dan Jumat Kliwon pengunjung membeludak.

Majasto
Majasto
Majasto
Majasto


Menurut generasi ke -11 juru kunci makam Ki Ageng Sutawijaya ini, ada yang istimewa terkait kondisi makam yang lebih dikenal sebagai Makam Majasto ini. Tanah di makam yang juga digunakan sebagai tempat pemakaman umum itu tidak seperti layaknya tanah di makam-makam umum lainnya.

Bagaimana tidak? Jika di makam umum lainnya untuk mengubur jasad mayat harus dalam kedalaman tertentu untuk mencegah bau mayat. Maka di makam tersebut mayat cukup dikubur sedalam 50 cm saja.

Majasto
Anehnya, meski tanahnya dangkal, jenazah tidak berbau. "Ini karena tanah di sini adalah tanah arum (harum-Red). Istilah harum di sini bukan secara kasat mata yang dapat dicium melalui hidung, melainkan melalui mata batin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar