Jumat, 05 Februari 2010

sesepuh wono sobo

Makam Syekh Umar Sutadrana salah satu makam yang terkenal di WonosoboBeliau datang dari Arab, keturunan ke-31 Nabi Muhammad. Datang ke Indonesia tahun 1820 bersama ayahnya Syekh Abdul Rahim. Sebagai pedagang sekaligus menyebarkan agama Islam. Menginjakkan tanah Jawa pertama kali di Jogjakarta,”ujar Patah Tjipto Suwiryo mengawali ceritanya.



Nama aslinya hanya Umar, kemudian membaur dengan orang Jawa ditambahi Sutadrana. Lantas ia bersama ayahnya menjadi prajurit Mataram. Berjuang melawan penjajah Belanda di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Ketika Belanda berhasil memukul perlawanan Pangerang Diponegoro, prajuritnya kocar-kacir. Syekh Umar dan ayahnya lari ke Wonosobo. Bersembunyi di suatu tempat yang kini disebut Sudagaran. Hingga memiliki 6 anak dari istri yang berasal dari Jogja.



“Enam anaknya itu bernama Eyang Jami, Eyang Mangundrana, Noyodrono, Singodrono, Surodipo, dan Abdullah.   
..................................................................Di Desa Candirejo Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah terdapat sebuah makam kuno. Konon, makam tersebut bersemayam jazad seorang tokoh pembawa alirah Tarekat Naqsbandiyah pertama kali di tanah Jawa. Syekh Abdullah Qutbudin namanya. Dia berasal dari Iran. Menyebarkan Islam dengan membawa bendera tarekat yang kemudian menyatu dengan kehidupan masyarakat Jawa. Bahkan diyakini, Candirejo sendiri merupakan desa Islam pertama di Jawa karena kedatangan Syekh Abdullah Qutbudin ini....makam ini yg menemukan gus dur......................................................................................................................................Syekh Abdullah Selomanik adalah keturunan Brawijaya V dari Majapahit. Putra Raden Bintoro I yang bergelar R Lembu Peteng (Kyai Tarup). Diyakini tokoh merupakan penyebar agama Islam pertama di Lembah Dieng................................Syekh Abdullah Selomanik adalah keturunan Brawijaya V dari Majapahit. Putra Raden Bintoro I yang bergelar R Lembu Peteng (Kyai Tarup). Diyakini tokoh merupakan penyebar agama Islam pertama di Lembah Dieng.Syekh Abdullah Selomanik adalah keturunan Brawijaya V dari Majapahit. Putra Raden Bintoro I yang bergelar R Lembu Peteng (Kyai Tarup). Diyakini tokoh merupakan penyebar agama Islam pertama di Lembah Dieng..........''''''''''''''''''''''''''''''''',Makam Tumenggung WirodutaDusun Kalilusi yang masuk wilayah Desa Pecekelan Kecamatan Sapuran memiliki kaitan erat dengan sejarah Kabupaten WonosoboTokoh yang paling berperan adalah Kyai Wiraduta. Bersama 2 wira lainnya yakni Kyai Wirabumi dan Wiradhaha membuka rimba raya yang angker menjadi sebuah perkampungan penduduk.


“Wiraduta merupakan keturuan Prabu Brawijaya 5 Majapahit. Beliau masih berhubungan darah dengan Setjonegoro dan Selomanik. Tumenggung Wiraduta bersama saudara dan kawan-kawannya lari ke wilayah Wonosobo setelah dikejar-kejar pasukan Belanda. Dalam perang gerilya tersebut, Wonosobo dipilih menjadi tempat persembunyian karena berhutan belantara lebat yang sulit terjangkau. Bersama pasukannya, Pangeran Diponegoro sempat melewati Desa Pecekelan. Sedangkan Widuta bersama Wirabumi dan Wiradhaha membuka hutan belantara tersebut menjadi perkampungan. Wilayah tersebut lantas menjadi pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Tumennggung Wiraduta. Pusat kekuasaan tersebut kemudian dipindah ke Ledok yang sekarang bernama Desa Plobangan Kecamatan Selomerto.Di dalam cungkup yang terbuat dari papan kayu terbaring jazad Tumenggung Wiraduta, istrinya dan sang ibu. Makam masih alami, ditandai dengan batu nisan dengan tanah yang rata. Sedangkan di luar adalah makam Kyai Blendang, Kyai Dalem, dan Kyai Diebeng juga ada Den Bagus Gendor. Komplek makam di dekat SMK Sapuran tidak terlalu jauh dari Jalan Raya Sapuran.......................................................................................Makam Tumenggung Jogonegoro terletak di desa Pekuncen, Selomerto. Tumenggung Jogonegoro merupakan seorang Bupati Kerajaan Mataram, mula-mula sebagai kepala prajurit ia bernama Ng. Singowedono. Karena jasanya terhadap kerajaan beliau mendapat gelar Raden Tumenggung Jogonegoro. Peristiwa ini terjadi pada masa menjelang perang Diponegoro atau pada era pemerintahan Sultan Sepuh atau Sultan Hamengku Buwono II.Tumenggung Jogonegoro sendiri merupakan cucu dari pendiri Wonosobo yaitu Kyai Karim.Pada waktu perang Diponegoro meletus. Tumenggung Jogonegoro bergerak dan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dan melakukan siasat perang gerilya. Dalam perang ini sampailah Tumenggung Jogonegoro dan prajuritnya di daerah Plabongan. Plabongan menjadi ibu kota Kabupaten Wonosobo pada waktu itu dan dikenal sebagai Wonosobo Plabongan. Di tempat inilah Tumenggung Jogonegoro bertahan hingga mangkatnya. Beliu wafat pada hari Kamis Pon, 6 Februari 1755.Di kompleks makam Pekuncen tidak hanya makam Tumengung Jogonegoro saja yang berada di sana namun juga makam keluarga dan para pembantu setianya seperti Kyai Pulanggeni dan Kyai Sanggageni................................................................makam Kyai Nurizal di Dusun Lempong Desa Kalierang Kecamatan Selomerto.Kyai Nurizal atau warga setempat menyebutkan Mbah Nurizal konon merupakan teman seperjuangan Tumenggung Jogonegoro dalam melawan penjajah. Dugaan cukup masuk akal. Antara makam Jogonegoro dan Mbah Nurizal lokasinya tak begitu jauh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar